Penyaluran Daging Meugang Bantuan Presiden di Buket Bata Dinilai Tidak Merata


Sabtu, 21 Februari 2026 - 14.53 WIB



ACEH TIMUR
– Penyaluran bantuan daging sapi dari Presiden Prabowo Subianto dalam rangka menyambut ramadan "Meugang" bagi korban banjir di Gampong Buket Bata, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, menuai polemik. Sejumlah warga menyatakan kekecewaan terhadap perangkat desa yang dinilai tidak transparan dalam proses pembagian bantuan tersebut.


​Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa persoalan utama bukanlah pada jumlah daging yang diterima, melainkan pada prinsip keadilan dan keterbukaan informasi.


​"Ini bukan sekadar masalah tidak mendapat jatah daging, melainkan soal keadilan dan transparansi," ujarnya, Sabtu (21/02/2026).


​Menurut sumber tersebut, masyarakat menyadari bahwa jumlah bantuan daging sapi memang terbatas. Berdasarkan hasil rapat desa, disepakati bahwa daging tersebut akan dibagikan secara merata kepada seluruh warga yang terdampak.


​"Sesuai kesepakatan rapat, daging harus dibagi rata meskipun setiap rumah hanya mendapat sekitar 3 ons. Namun, kenyataannya banyak warga yang mengaku sama sekali tidak mendapatkan bagian," tambahnya.


​Kondisi ini memicu reaksi keras dan sorotan dari masyarakat. Muncul dugaan di tengah warga bahwa sebagian jatah daging milik korban banjir tersebut raib atau tidak disalurkan sesuai prosedur.


​Tanggapan Kepala Desa (Keuchik)


​Menanggapi keluhan tersebut, Keuchik Gampong Buket Bata, Sulaiman, memberikan klarifikasi pada Jumat (20/02). Ia menegaskan bahwa berdasarkan hasil keputusan rapat, bantuan daging sapi tersebut memang dialokasikan untuk 492 Kepala Keluarga (KK).


​"Pembagian dilakukan secara rata untuk 492 KK. Itu adalah keputusan yang diambil bersama oleh masyarakat," jelas Sulaiman.


​Terkait adanya warga yang tidak menerima jatah, Sulaiman menduga hal tersebut terjadi karena warga yang bersangkutan tidak datang untuk mengambil bantuan. Ia membantah adanya unsur kesengajaan dalam memangkas hak warga.


​"Jika ada yang tidak mendapat daging, bukan berarti tidak diberi jatah, tetapi kemungkinan mereka tidak datang mengambilnya. Kami tidak memiliki anggaran untuk mengantarkan daging langsung ke rumah-rumah, dan kami juga tidak memiliki gudang penyimpanan. Jika daging tersebut hilang karena tidak diambil tepat waktu, itu di luar tanggung jawab kami," pungkas Sulaiman.(*)

Bagikan:
KOMENTAR