Asa Baru di Balik Sisa Banjir Aceh Utara: 19 Jembatan Kembali Berdiri


Minggu, 15 Februari 2026 - 10.13 WIB




LHOKSUKON – Deru air yang menenggelamkan sebagian besar wilayah Aceh Utara beberapa waktu lalu memang telah surut, namun luka yang ditinggalkannya pada infrastruktur sempat melumpuhkan urat nadi ekonomi warga. Kini, duka itu perlahan berganti dengan deru mesin konstruksi dan ketukan palu para pekerja.



​Sebanyak 21 jembatan dilaporkan putus total akibat terjangan banjir besar tersebut. Kehilangan akses ini bukan sekadar soal beton yang runtuh, melainkan terputusnya jalur pendidikan bagi anak sekolah dan jalur distribusi hasil bumi bagi para petani.



​Menanggapi urgensi tersebut, Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil—atau yang lebih akrab disapa Ayah Wa—bergerak cepat. Ia membawa keresahan warga Lhoksukon dan sekitarnya langsung ke meja Presiden Prabowo Subianto.



​Komitmen Pusat dan Realisasi Nyata



​Upaya jemput bola tersebut membuahkan hasil manis. Hingga pertengahan Februari ini, progres pembangunan kembali infrastruktur yang rusak menunjukkan angka yang signifikan.



​"Alhamdulillah, dari 21 jembatan yang kita usulkan, sebanyak 19 jembatan sudah selesai direalisasikan," ujar Ayah Wa saat dikonfirmasi KabarSATU.Info, Sabtu (15/2/2026).




Salah satu pencapaian krusial adalah rampungnya Jembatan Bailey yang menghubungkan Desa Alue Leuhop dengan Buket Hagu. Jembatan ini menjadi simbol kembalinya konektivitas warga yang sempat terisolasi selama berbulan-bulan.



​Terus Berkoordinasi



​Meski sebagian besar jembatan telah berdiri kokoh, Ayah Wa menegaskan bahwa tugas pemerintah belum usai. Masih ada dua jembatan lagi yang menjadi pekerjaan rumah, serta sejumlah infrastruktur pendukung lainnya yang perlu dipulihkan pascabanjir.



​"Kami akan terus melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah pusat. Percepatan pembangunan infrastruktur pascabanjir adalah prioritas utama agar roda ekonomi masyarakat Aceh Utara kembali berputar normal," tambahnya dengan nada optimistis.



​Kini, warga Alue Leuhop kecamatan Cot Girek tidak lagi harus menatap sungai dengan rasa cemas. Jembatan yang berdiri tegak itu menjadi bukti bahwa di balik musibah, selalu ada kerja keras yang membawa perubahan.(sul)

Bagikan:
KOMENTAR