Senyum Masyarakat di Hari Meugang


Rabu, 18 Februari 2026 - 11.00 WIB



LHOKSUKON – Bagi masyarakat Aceh, Meugang bukan sekadar ritual menyantap daging sapi. Tradisi ini adalah simbol kebersamaan, penghormatan terhadap hari besar keagamaan, sekaligus perekat silaturahmi yang sakral. 



Namun, bagi ribuan warga Aceh Utara yang baru saja dihantam bencana banjir, aroma daging Meugang mungkin sempat terasa jauh dari angan-angan.



​Harapan itu kembali hidup pada Selasa (17/02/2026). Sejak pagi buta, suasana di halaman meunasah (surau) berbagai gampong di Aceh Utara tampak riuh. Pemerintah desa secara serentak melaksanakan penyembelihan hewan Meugang berupa sapi bantuan dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.




Gotong Royong di Halaman Meunasah


Di Gampong Nibong Baroeh, Kecamatan Nibong, dua ekor sapi jantan berukuran besar menjadi pusat perhatian. Begitu pula di Desa Krueng Lingka, Kecamatan Langkahan, Desa Alue Itam Reudep, Teupin Keubeu, Alue Buket, Kecamatan Lhoksukon serta puluhan desa lainnya di pelosok kabupaten Aceh Utara. 



Panitia yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat (Pokmas) tampak sigap membagi tugas; ada yang mengasah pisau, menyiapkan timbangan, hingga memotong daging menjadi bagian-bagian kecil.



​Geuchik (Kepala Desa) Gampong Nibong Baroeh, Razali, menyatakan bahwa seluruh proses dilakukan dengan gotong royong untuk memastikan pelaksanaan berjalan tertib dan sesuai syariat Islam.



​“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Bupati Aceh Utara atas bantuan ini. Di tengah kondisi pascabanjir, bantuan sapi Meugang ini sangat membantu dan membawa kebahagiaan nyata bagi masyarakat kami,” ujar Razali dengan nada haru.




Pelipur Lara Pascabencana



​Bantuan ini bukan sekadar bantuan sosial biasa. Pemerintah pusat mengucurkan dana sebesar Rp19,55 miliar yang ditransfer langsung ke rekening pemerintah daerah untuk pengadaan hewan kurban ini. Secara total, sebanyak 1.109 ekor sapi disiapkan melalui program bertajuk "Meugang Presiden".



​Langkah cepat Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dalam menyalurkan bantuan ini menjadi pelipur lara bagi warga terdampak bencana, baik yang merasakan dampak langsung maupun tidak langsung. Bagi warga, keberadaan daging di meja makan saat Meugang adalah bentuk martabat dan rasa syukur yang tak ternilai.




Kini, kepulan asap dari dapur warga Aceh Utara tidak hanya membawa aroma masakan khas Aceh, tetapi juga membawa pesan bahwa mereka tidak sendirian dalam masa pemulihan. Bantuan dari istana telah tiba di piring-piring rakyat, menyulut kembali semangat dan senyum yang sempat redup diterjang banjir.(sul)

Bagikan:
KOMENTAR