LHOKSUKON – Bagi masyarakat Aceh, Meugang bukan sekadar ritual menyantap daging sapi. Ia adalah simbol kebersamaan, penghormatan terhadap hari besar keagamaan, sekaligus perekat silaturahmi. Namun, bagi ribuan warga Aceh Utara yang baru saja dihantam bencana, aroma daging Meugang mungkin sempat terasa jauh dari angan-angan.
Memahami hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara bergerak cepat. Sebanyak 1.109 ekor sapi disiapkan melalui program "Meugang Presiden" sebagai pelipur lara bagi warga terdampak bencana, baik yang merasakan dampak langsung maupun tidak langsung.
Dalam suasana santai pada kegiatan coffee morning di Oproom Kantor Bupati, Senin (16/2/2026), Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil—atau yang akrab disapa Ayah Wa—berbagi cerita mengenai program ini. Didampingi jajaran pejabat daerah seperti Plt. Sekda Jamaluddin dan Asisten I Dayan Albar, ia menegaskan bahwa bantuan ini diprioritaskan bagi mereka yang mengalami kerusakan berat.
"Kami ingin memastikan bahwa meskipun warga sedang dalam masa sulit akibat bencana, tradisi Meugang tetap bisa dirayakan di meja makan setiap keluarga," ujar Ayah Wa di hadapan insan pers.
Transparansi di Balik Angka
Bukan sekadar bantuan simbolis, program ini dikelola dengan angka yang cukup fantastis, yakni mencapai Rp19,46 miliar (setelah dipotong pajak 1,5%). Setiap rupiahnya diawasi ketat. Untuk menjaga kualitas, tiap ekor sapi harus memenuhi standar bobot 300 kilogram dengan harga Rp58.000 per kilogramnya.
Dinas Kesehatan Hewan pun turun tangan.
Sebelum sapi-sapi itu sampai ke tangan warga, pemeriksaan kesehatan dilakukan secara menyeluruh. Hal ini penting untuk menjamin bahwa daging yang dikonsumsi masyarakat nantinya sehat dan layak.
Melibatkan Masyarakat Melalui Pokmas
Satu hal yang menarik dari program ini adalah skema penyalurannya. Pemerintah tidak bekerja sendiri, melainkan melalui swakelola Kelompok Masyarakat (Pokmas). Dana bantuan langsung ditransfer ke rekening kelompok di 852 desa untuk pengadaan sapi secara mandiri.
"Distribusinya fleksibel namun tetap terukur. Desa yang terdampak lebih parah tentu akan mendapatkan alokasi yang lebih besar," jelas pihak Pemerintah Kabupaten. Langkah ini diambil untuk menekan potensi konflik di tingkat akar rumput sekaligus memastikan bantuan tepat sasaran.
Pemerintah menyadari bahwa bantuan ini mungkin belum mampu mencukupi seluruh kebutuhan masyarakat terdampak yang luas. Namun, di balik distribusi 1.109 sapi ini, ada pesan yang lebih dalam: pemerintah hadir di tengah kesulitan warga.
Kini, di 852 desa di Aceh Utara, harapan itu mulai nyata. Program ini tak hanya meringankan beban ekonomi, tetapi juga menjaga api tradisi Meugang tetap menyala, membawa kehangatan di tengah masa pemulihan pascabencana. (sul)
