Terkait Kericuhan di Cot Girek, Ketua SETIA Sebut Pengukuran Tapal Batas Sepihak Jadi Pemicu Keributan
![]() |
| Foto: ilustrasi |
ACEH UTARA— Ketua Serikat Tani Aceh (SETIA), Dwijo Warsito, menegaskan bahwa keributan yang terjadi terkait lahan di Cot Girek dipicu oleh aksi pengukuran tapal batas desa yang dilakukan secara sepihak tanpa adanya konfirmasi terlebih dahulu kepada warga.
Saat kejadian berlangsung pada sore hari sekitar pukul 17.00 WIB, Dwijo mengaku dirinya sedang tidak berada di tempat. Namun, ia mendapatkan informasi dari sejumlah rekan mengenai adanya kesalahpahaman di lapangan.
"Sebelumnya juga tidak ada konfirmasi apa pun tentang akan dilaksanakannya pengukuran tapal batas. Lagi pula perlu saya tegaskan di sini bahwa kami tidak mengambil tanah ini," ujar Dwijo melalui keterangan tertulis, Minggu (6/9).
Dwijo meluruskan bahwa substansi persoalan yang memicu konflik di lapangan bukanlah sengketa batas antarwilayah desa. Konflik tersebut murni bentuk perlawanan warga yang mempertahankan tempat tinggal dan kebun mereka agar tidak masuk ke dalam proses perpanjangan Hak Guna Usaha (HGU) PT Cot Girek.
"Kami menolak diperpanjangnya HGU Cot Girek, jadi tidak ada alasan mengukur batas desa. Jika pun harus mengukur batas desa, tentu tidak boleh sepihak dan harus melibatkan kedua belah pihak," tambahnya.
Lebih lanjut, Dwijo menilai ketegangan yang sempat terjadi di lokasi merupakan dampak dari praktik adu domba yang sengaja dijalankan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Ia menduga provokasi tersebut menjadi akar utama dari keributan yang melibatkan warga setempat.
Diberitakan, seorang warga bernama Hablillah (36) warga Gampong Bili Baroe kecamatan Pirak Timur resmi melaporkan kasus dugaan tindak pidana pengeroyokan ke Polres Aceh Utara.
Insiden terjadi saat korban berniat melerai pertikaian terkait sengketa tapal batas desa di kawasan Desa Beurandang Asan, Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara, Minggu (6/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Kejadian bermula ketika aparatur desa bersama masyarakat sedang melaksanakan kegiatan pengukuran ulang batas wilayah antara Dusun Pucuk Rintis dan Beurandang Asan.
Pengukuran tersebut menurut Geuchik Beurandang Asan, Nazarkasi, sebelumnya sudah dibicarakan atau berkoordinasi dengan Geuchik Kampung Tempel.
Di tengah proses pengukuran, puluhan orang dari kelompok luar datang ke lokasi untuk melakukan protes. Perdebatan sengit yang berujung cekcok mulut tidak dapat dihindarkan hingga akhirnya memicu tindakan kekerasan fisik.
Nazarkasi, menjelaskan bahwa kelompok yang melakukan penyerangan diduga bukan merupakan warga desa setempat yang bersengketa.
Para pelaku kekerasan tersebut disinyalir merupakan kelompok luar yang berasal dari jaringan serikat tani Aceh.(sul)

