Milad ke-800 Aceh Utara menjadi lokomotif baru pertumbuhan ekonomi kreatif dan pariwisata daerah
ACEH UTARA -- Peringatan delapan abad kabupaten Aceh Utara dan mengenang kejayaan Kesultanan Samudera Pase yang dipusatkan di lapangan kantor Bupati Aceh Utara bukan sekadar merayakan romantisme masa lalu. Di balik kemeriahan Festival Piasan Pase yang dijadwalkan berlangsung selama sepekan, terselip sebuah agenda strategis yang jauh lebih mendesak: mentransformasikan warisan sejarah Islam tertua di Nusantara ini menjadi lokomotif baru pertumbuhan ekonomi kreatif dan pariwisata daerah.
Selama ini, narasi besar mengenai kejayaan Samudera Pase kerap berhenti di ruang-ruang akademis dan buku pelajaran sejarah. Padahal, jejak maritim dan diplomasi internasional yang dibangun kerajaan ini pada abad ke-13 menyimpan potensi besar untuk direkonstruksi sebagai identitas modern.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara, Dr. Jamaluddin, S.Sos., M.Pd menyoroti bahwa perayaan delapan abad ini harus menjadi titik tolak industrialisasi budaya lokal, bukan sekadar seremoni tahunan yang minim dampak berkelanjutan.
Jamaluddin mengatakan, penyelenggaraan Piasan Pase yang merangkum spektrum kebudayaan klasik hingga kontemporer menawarkan cara pandang baru dalam merawat sejarah. Pendekatan ini menghindari kejenuhan publik terhadap pameran sejarah konvensional. Melalui perpaduan seni pertunjukan, kuliner tradisional, dan kriya khas Aceh, sejarah tidak lagi dihadirkan sebagai artefak bisu, melainkan sebagai ruang interaksi ekonomi yang hidup.
Integrasi situs-situs makam raja Pase dan peninggalan arkeologis ke dalam ekosistem halal tourism berstandar nasional.
Pelibatan seniman lokal dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk menerjemahkan motif serta filosofi Pase ke dalam produk fesyen dan kriya masa kini.
lanjut Jamaluddin, memperkuat posisi Aceh Utara dalam jejaring kota pusaka Nusantara guna menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara secara konsisten.
Transformasi ini memerlukan komitmen lintas sektor agar tidak terjebak dalam euforia sesaat. Ketika tirai Piasan Pase ditutup, tantangan sesungguhnya justru dimulai: bagaimana memastikan kurikulum muatan lokal berbasis sejarah Pase berjalan efektif di sekolah-sekolah, sekaligus menjadikan situs-situs sejarah sebagai destinasi mandiri yang menghidupkan dapur para pelaku usaha lokal.
Delapan ratus tahun usia Samudera Pase membuktikan bahwa kawasan ini pernah menjadi titik nol peradaban Islam di Asia Tenggara. Kini, pertanyaannya bukan lagi seberapa besar kejayaan yang pernah diraih, melainkan seberapa cerdas Aceh Utara mengemas warisan tersebut untuk memenangkan masa depan. (sul)

