Sawah Kekeringan, Irigasi Meureudu Dikebut
PIDIE JAYA – Keluhan petani Pidie Jaya soal minimnya pasokan air ke persawahan mulai mendapat respons cepat. Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya mempercepat perbaikan darurat jaringan Daerah Irigasi (DI) Meureudu yang rusak parah setelah diterjang banjir bandang dan longsor pada 2025 lalu.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie Jaya, Muhammad Nur, turun langsung memantau pekerjaan perbaikan irigasi di kawasan Blang Awee, Kecamatan Meureudu.
Perbaikan dilakukan secara darurat menggunakan alat berat excavator, dengan dukungan sejumlah pihak termasuk anggota dewan, untuk mengembalikan aliran air menuju areal persawahan petani.
Langkah tersebut dilakukan menyusul keluhan petani yang membutuhkan kepastian pasokan air untuk mengolah dan menanam sawah mereka.
“Alhamdulillah, untuk aliran irigasi kanan DI Meureudu sudah ditanggulangi. Wilayah Kecamatan Meurah Dua dan Ulim sudah mulai terairi ke persawahan melalui penanganan secara manual dan darurat,” demikian laporan yang disampaikan terkait perkembangan pekerjaan.
Air Mulai Mengalir, Meureudu Ditarget Terairi
Sementara itu, untuk saluran bagian kiri yang mengarah ke wilayah Kecamatan Meureudu, proses perbaikan masih berlangsung.
Muhammad Nur kembali memantau langsung pengerjaan di Blang Awee. Dari hasil pemantauan, debit air yang tersedia disebut sudah cukup besar dan mulai dialirkan menuju kawasan Manyang Cut.
“Tadi saya pantau di Blang Awee, airnya cukup banyak. Ini sedang proses mengalir ke Manyang Cut. Dua atau tiga jam kemudian baru masuk Kota Meureudu. Besok pagi kita lihat full-nya debit dalam saluran,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah daerah optimistis aliran air ke persawahan di wilayah Meureudu dapat segera kembali normal secara bertahap.
Jika tidak ada kendala, saluran bagian kiri ditargetkan mulai mengairi areal persawahan pada hari berikutnya.
Infrastruktur Hancur, Petani Tak Boleh Menunggu
Kerusakan DI Meureudu menjadi salah satu persoalan serius dalam pemulihan sektor pertanian Pidie Jaya pascabencana hidrometeorologi. Banjir bandang dan longsor yang menerjang wilayah tersebut pada 2025 merusak sejumlah jaringan irigasi dan mengganggu sistem pengairan ke lahan pertanian.
Kondisi tersebut berisiko menghambat musim tanam sekaligus memperpanjang dampak ekonomi yang dirasakan petani.
Karena itu, Pemkab Pidie Jaya memilih melakukan penanganan darurat sembari menunggu penanganan permanen terhadap jaringan irigasi yang rusak.
Bagi pemerintah daerah, memastikan air kembali mengalir ke sawah bukan sekadar persoalan infrastruktur. Air menjadi penentu apakah petani dapat kembali menanam, memulihkan produksi, dan menghidupkan kembali perekonomian setelah dihantam bencana.
Perbaikan darurat DI Meureudu diharapkan menjadi langkah awal untuk mengembalikan produktivitas pertanian sekaligus menjawab keresahan petani yang selama ini menunggu kepastian pasokan air ke persawahan mereka.(Pangwa)

