BREAKING NEWS

Saat Pena Pengabar Berita Harus Menuliskan Dukanya Sendiri di Cot Girek


​Cot Girek – Kamis sore itu, pukul 16.00 WIB, langit di atas Kampung Tempel tiba-tiba berubah pekat. Semburan angin topan yang datang bersama hujan deras mendadak mengoyak ketenangan warga. Dalam hitungan menit, alam menunjukkan kekuatannya, menyisakan puing-puing dan trauma mendalam bagi dua kepala keluarga di Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara.



​Bagi Muhammad Amin (32), sore itu harusnya menjadi waktu bersantai yang hangat bersama keluarga kecilnya. Namun, profesinya sebagai jurnalis yang biasa mengabarkan berita duka, kali ini harus mendapati dirinya sendiri yang menjadi subjek berita tersebut.



​"Saat kejadian, saya bersama keluarga berada di dalam rumah. Tiba-tiba suara gemuruh angin bertiup sangat kencang. Hanya dalam hitungan menit, kami melihat dengan mata kepala sendiri atap rumah mulai terangkat dan terbang," kenang Amin dengan tatapan mata yang masih menyiratkan sisa ketakutan.



​Meski sebagian dinding rumahnya retak dan atapnya bolong diterjang badai, Amin masih mampu mengucap syukur. Di tengah kepungan material rumah yang beterbangan, ia berhasil menyelamatkan seluruh anggota keluarganya tanpa ada luka sedikit pun.


​Tidak jauh dari rumah Amin, nasib serupa menimpa Tihawa. Di usianya yang telah senja, 70 tahun, perempuan tua ini harus menghadapi kenyataan pahit. Rumah kayu yang selama puluhan tahun menjadi tempatnya berteduh dari terik dan hujan, kini tak lagi utuh.



​Sebagian besar atap rumahnya terbang dibawa angin, menyisakan ruangan yang basah kuyup oleh sisa hujan. Dengan suara bergetar dan nada haru, janda tua ini meratapi tempat tinggalnya.



​"Saya tidak menyangka anginnya bisa sekuat itu. Sebagian atap rumah saya rusak. Sekarang saya bingung harus tinggal bagaimana, saya hanya berharap ada bantuan untuk memperbaiki rumah ini," tuturnya pelan, menahan air mata yang hampir tumpah.



​Bagi Tihawa, kehilangan atap bukan sekadar kehilangan materi, melainkan hilangnya rasa aman di masa tuanya. Kerugian materi mungkin hanya dinilai dengan angka jutaan rupiah, namun trauma psikologis bagi seorang lansia tentu jauh lebih besar.


​Kabar duka ini dengan cepat memantik kepedulian. Tak lama setelah badai mereda, Camat Cot Girek, Muhammad Kasim, S.Sos., langsung turun ke lokasi kejadian. Langkah kakinya menyusuri jalanan Kampung Tempel yang masih basah, meninjau satu per satu rumah yang rusak, dan memberikan pelukan hangat sebagai dukungan moril bagi warganya yang sedang berduka.



​Di sela-sela peninjauannya, Kasim menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam melihat warganya telantar.



​"Kami turut prihatin sedalam-dalamnya atas musibah ini. Pihak kecamatan akan segera berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan pendataan menyeluruh agar bantuan darurat dan perbaikan rumah bisa segera disalurkan kepada para korban," tegas Kasim.



​Kini, riuh angin topan telah berlalu dari Cot Girek, meninggalkan langit malam yang kembali sepi. Namun bagi Amin dan Nek Tihawa, malam-malam ke depan akan terasa lebih panjang di bawah langit-langit rumah mereka yang kini tak lagi beratap. Sembari menunggu uluran tangan pemerintah, warga setempat kini hanya bisa saling bahu-bahu dan tetap waspada, sadar bahwa cuaca ekstrem bisa kembali mengetuk pintu rumah mereka kapan saja. (*) 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image