Pidie Jaya Bangkit Kejar Musim Gadu 2026
PIDIE JAYA – Beberapa bulan lalu, hamparan sawah di sejumlah wilayah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, berubah menjadi kawasan yang sulit dikenali. Banjir akibat bencana hidrometeorologi menghantam lahan pertanian, merusak saluran, mengendapkan lumpur, dan memupus harapan petani untuk segera turun ke sawah.
Kini, kondisi itu perlahan berubah.
Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya memastikan seluruh lahan sawah kategori rusak sedang seluas 141 hektare yang terdampak bencana telah selesai diperbaiki dan mulai kembali diolah untuk menghadapi musim tanam gadu tahun 2026.
Kabar tersebut disampaikan Bupati Pidie Jaya melalui Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, M. Nur. Menurutnya, proses rehabilitasi lahan yang sebelumnya mengalami kerusakan di kawasan Kecamatan Banda Dua dan Meurah Dua telah rampung sehingga petani dapat kembali mempersiapkan musim tanam.
"Seluruh lahan sawah yang masuk kategori rusak sedang akibat bencana hidrometeorologi sudah diperbaiki. Saat ini sebagian besar lahan sudah mulai dilakukan pengolahan tanah agar dapat ditanami pada musim gadu tahun ini," ujar M. Nur.
Perbaikan lahan tersebut menjadi langkah penting dalam memulihkan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Pidie Jaya. Selain memperbaiki lahan yang rusak, pemerintah daerah juga memberikan dukungan alat dan bantuan pengolahan tanah melalui Dinas Pertanian dan Pangan agar petani dapat kembali berproduksi.
Di tengah proses pemulihan itu, denyut kehidupan pertanian mulai kembali terasa. Sejumlah petani di wilayah terdampak telah mempersiapkan diri menyambut musim tanam baru melalui musyawarah turun ke sawah yang menjadi tradisi sekaligus mekanisme pengaturan pola tanam secara bersama-sama.
Salah satu agenda penting akan berlangsung di Kecamatan Bandar Dua. Pemerintah kecamatan menjadwalkan rapat musyawarah turun ke sawah musim tanam gadu 2026 pada Senin, 8 Juni 2026, di Aula Kantor Camat Bandar Dua.
Pertemuan tersebut akan melibatkan berbagai pihak, mulai dari Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Pekerjaan Umum, penyuluh pertanian, unsur TNI-Polri, para imum mukim, keuchik hingga keujruen blang guna menyepakati jadwal dan pola tanam yang seragam.
Bagi petani, rapat tersebut bukan sekadar agenda rutin. Musyawarah turun ke sawah menjadi penanda bahwa masa sulit pascabencana mulai ditinggalkan dan harapan baru kembali tumbuh di atas lahan yang sebelumnya porak-poranda diterjang banjir.
Pemulihan 141 hektare sawah itu juga menjadi bagian dari upaya menjaga produksi pangan daerah di tengah ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang dalam beberapa tahun terakhir semakin sering memicu bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Aceh.
Dengan lahan yang kembali siap tanam dan dukungan pemerintah yang terus mengalir, ribuan petani di Pidie Jaya kini menatap musim gadu 2026 dengan optimisme baru. Dari tanah yang sempat rusak dan tertutup lumpur, harapan untuk kembali memanen padi mulai tumbuh.(Pang)

