BREAKING NEWS

Sepucuk Surat Mundur di Tengah Prahara Tengah Malam


​LHOKSUKON – Kesunyian malam di Gampong dalam Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, mendadak pecah oleh kegaduhan yang tak terduga. Sebuah drama kehidupan nyata terjadi di balik pintu salah satu rumah warga, menyeret nama seorang pemimpin desa yang seharusnya menjadi teladan bagi rakyatnya.



​Oknum Geuchik (Kepala Desa) berinisial Y diduga tertangkap basah sedang memadu kasih dengan seorang wanita yang merupakan istri orang lain. Kejadian yang berlangsung beberapa hari lalu ini kini menjadi buah bibir yang menyesakkan dada warga.


​Berdasarkan kesaksian warga yang enggan identitasnya diungkap, penggerebekan tersebut berlangsung dramatis. Sang suami dari wanita tersebut kabarnya memergoki langsung keberadaan sang Geuchik di dalam rumahnya.



​"Saat digerebek, Pak Geuchik langsung melarikan diri melalui pintu belakang," ujar sumber tersebut dengan nada kecewa.



​Langkah seribu yang diambil sang pemimpin desa malam itu nyatanya tidak mampu menghapus jejak aib yang sudah terlanjur terendus publik. Desas-desus pun menjalar cepat, menciptakan mosi tidak percaya di tengah masyarakat gampong.


​Sadar posisinya berada di ujung tanduk dan nama baiknya telah tercoreng, sang oknum Geuchik mengambil langkah cepat. Dalam sebuah musyawarah desa yang dihadiri oleh perangkat dan tokoh masyarakat, ia secara resmi melayangkan surat pengunduran diri dari jabatannya.



​Keputusan ini diambil sebagai bentuk pertanggungjawaban moral atas kekhilafan yang ia lakukan. Bagi warga, pengunduran diri ini adalah akhir dari sebuah masa jabatan yang ditutup dengan catatan kelam.


​Saat dikonfirmasi oleh awak media, Kamis (14/5/2026) sang mantan Geuchik tersebut tidak menampik kabar yang beredar. Dengan nada bicara yang sarat akan penyesalan, ia mengakui segala kekeliruannya di hadapan hukum dan norma sosial.


"Saya akui saya salah," ucapnya lirih.



​Ia menyatakan bahwa tidak ada manusia, termasuk pemimpin desa, yang sempurna. Ia juga sempat meminta agar kasus ini tidak dibesar-besarkan demi menjaga perasaan istri dan anak-anaknya.



"Malu saya, istri, dan anak-anak saya," pungkasnya.



Terpisah, Camat Meurah Mulia, Abd. Rahman, saat dimintai tanggapannya melalui pesan WhatsApp terkait prahara ini dan kemungkinan sanksi adat yang akan dijatuhkan, memberikan jawaban singkat. Ia mengaku belum menerima laporan mengenai insiden tersebut.



​"Waalaikumsalam, gohlom na laporan bak loen, tanyong langsoeng laju (Belum ada laporan ke saya. Tanya saja langsung)," jawabnya singkat dalam bahasa daerah.



​Meski pihak kecamatan masih menunggu laporan formal, bola panas pengunduran diri sang Geuchik kini telah bergulir di tingkat desa, menunggu proses administrasi dan penyelesaian secara adat yang berlaku di Bumi Serambi Mekkah.(*) 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image