BREAKING NEWS

Petani Pidie Jaya Sulap Sawah yang Hancur Diterjang Banjir jadi Sentra Hortikultura


PIDIE JAYA – Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya mulai mengubah lahan sawah yang rusak parah akibat banjir bandang dan longsor menjadi kawasan hortikultura produktif. Melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia, lahan yang sebelumnya tidak lagi dapat ditanami padi kini disiapkan untuk budidaya bawang merah, cabai, dan jagung sebagai upaya mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana.


Hal tersebut disampaikan Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi melalui Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie Jaya, Muhammad Nur, saat meninjau persiapan lahan di Kecamatan Meurah Dua.


Muhammad Nur mengatakan, pemerintah daerah telah mengarahkan kelompok tani di wilayah tersebut untuk memanfaatkan lahan sawah yang tertimbun lumpur akibat bencana hidrometeorologi dengan menanam komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi.


"Atas arahan Bupati Pidie Jaya, kami bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk memanfaatkan lahan sawah yang rusak berat akibat banjir. Lahan ini sementara dialihkan menjadi areal penanaman cabai, bawang merah, dan jagung agar tetap memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.


Ia menjelaskan, salah satu lokasi yang mulai digarap adalah lahan milik Kelompok Tani Makmu Beurata di Kecamatan Meurah Dua. Sekitar satu hektare lahan telah dipersiapkan dan dijadwalkan mulai ditanami bawang merah dalam waktu dekat.


"Alhamdulillah, persiapan lahan sudah selesai. Insya Allah dalam beberapa hari ke depan penanaman bawang merah akan dimulai di lahan seluas kurang lebih satu hektare," katanya.


Muhammad Nur juga mengungkapkan bahwa pada 7 Juli 2026, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya bersama Bank Indonesia dijadwalkan melakukan panen bawang merah di Desa Meunasah Teugoh, Kecamatan Meurah Dua. Lahan tersebut sebelumnya juga merupakan sawah yang rusak berat akibat banjir bandang dan longsor yang melanda Pidie Jaya pada 2025.


Menurutnya, keberhasilan uji coba budidaya bawang merah di lahan bekas sawah terdampak bencana menjadi bukti bahwa kawasan tersebut masih memiliki potensi ekonomi jika dikelola dengan pendekatan yang tepat.


Selain pemanfaatan lahan, pemerintah juga mulai menerapkan sistem penyiraman modern menggunakan teknologi sprinkler untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air dan mendukung pertumbuhan tanaman.


Teknologi tersebut telah diterapkan di empat lokasi prioritas, yakni Desa Meunasah Teugoh, Dayah Kruet, Bawah Krueng, dan Desa Buangan, yang seluruhnya berada di kawasan terdampak banjir.


Muhammad Nur menambahkan, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Aceh terkait penanganan lahan sawah rusak lainnya. Melalui Dinas Pertanian Aceh, pemerintah provinsi direncanakan memberikan bantuan pengolahan lahan menggunakan traktor secara gratis serta dukungan benih berbagai komoditas.


"Informasi yang kami terima, nantinya lahan-lahan tersebut akan mendapat bantuan pengolahan tanah dan benih. Namun pelaksanaannya masih menunggu proses administrasi dan kontraktual di tingkat provinsi," jelasnya.


Sembari menunggu program rehabilitasi permanen lahan sawah dari pemerintah pusat yang diperkirakan mulai dilaksanakan pada 2027 atau paling cepat akhir 2026, pemerintah daerah memilih mengoptimalkan lahan melalui budidaya hortikultura agar tetap produktif dan memberikan penghasilan bagi petani.


Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Makmu Beurata, Husnul Ramadhan, menyambut baik program tersebut. Ia mengaku lahan yang kini akan ditanami bawang merah sebelumnya merupakan areal persawahan yang rusak total akibat tertimbun lumpur sehingga tidak lagi memungkinkan untuk ditanami padi.


"Program ini memberikan harapan baru bagi kami. Sawah yang sebelumnya terbengkalai kini kembali dimanfaatkan untuk bertani. Kami sangat bersyukur karena semangat petani kembali tumbuh," ujarnya.


Husnul juga mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, khususnya Dinas Pertanian dan Pangan yang berhasil membangun kerja sama dengan Bank Indonesia dalam mendukung pemulihan sektor pertanian.


Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada upaya menghidupkan kembali sumber penghidupan masyarakat melalui inovasi pertanian yang lebih adaptif dan bernilai ekonomi tinggi. (Pangwa)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image