BREAKING NEWS

BI Turun Tangan Pulihkan Pertanian Pascabanjir Pidie Jaya


PIDIE JAYA – Upaya mempercepat pemulihan sektor pertanian pascabanjir hidrometeorologi di Kabupaten Pidie Jaya terus diperkuat. Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya bersama Bank Indonesia menggelar pelatihan teknis penanganan benih bawang merah yang benar agar terbebas dari pembusukan dan lebih hemat biaya produksi, Selasa (30/6/2026), di Desa Meue, Kecamatan Trienggadeng, Aceh.


Kegiatan bertajuk "Haba Meugoe Bawang" (Berbicara Tentang Bertani Bawang) tersebut dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie Jaya, Muhammad Nur, sebagai bagian dari Program Bantuan Teknis Pengembangan Klaster Bawang Merah.


Pelatihan merupakan hasil kolaborasi Perwira Intan (Perintis Wirausaha Inklusif dan Berkelanjutan), Bank Indonesia, serta Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera dalam mendorong peningkatan produktivitas komoditas hortikultura sekaligus menjaga stabilitas pasokan pangan daerah.


Dalam sambutannya, Muhammad Nur menyampaikan pesan Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, yang berharap Bank Indonesia terus memberikan pendampingan kepada petani, khususnya mereka yang terdampak bencana banjir hidrometeorologi.


Menurutnya, lahan-lahan pertanian yang rusak berat akibat banjir perlu segera dihidupkan kembali melalui penanaman komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti bawang merah, cabai, dan jagung agar mampu mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat.


"Kami berharap dukungan Bank Indonesia terus berlanjut, terutama dalam membantu petani korban banjir agar dapat kembali mengelola lahan terdampak dengan berbagai komoditas unggulan. Langkah ini penting untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah," ujar Muhammad Nur menyampaikan harapan Bupati.


Sementara itu, Dafa Amaru, Analis Pengembangan UMKM Bank Indonesia, menjelaskan bahwa keterlibatan Bank Indonesia dalam sektor pertanian merupakan bagian dari pelaksanaan amanat undang-undang, khususnya dalam menjaga stabilitas nilai rupiah melalui pengendalian inflasi.


Menurutnya, salah satu strategi yang dilakukan adalah memperkuat kelompok tani melalui peningkatan kapasitas, pengembangan klaster pertanian, serta mendorong peningkatan produksi komoditas pangan yang selama ini menjadi penyumbang inflasi.


"Penguatan kelompok tani menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas harga pangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat," katanya.


Pelatihan menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi pertanian. Hayaton, SP., MP memaparkan berbagai teknik budidaya bawang merah, mulai dari pemilihan benih berkualitas, pengolahan lahan, teknik penanaman, pemupukan berimbang, hingga penyemprotan yang tepat untuk meningkatkan produktivitas tanaman.


Selain itu, Prof. Dr. Ir. Rina Sriwati, M.Si memberikan materi mengenai pengendalian organisme pengganggu tanaman, termasuk penanganan serangan ulat yang kerap menjadi salah satu penyebab turunnya hasil panen bawang merah.


Pelatihan tersebut mendapat antusiasme tinggi dari para petani bawang merah yang datang dari berbagai kecamatan di Kabupaten Pidie Jaya.


 Mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdiskusi langsung dengan para pemateri mengenai berbagai tantangan budidaya bawang merah di lapangan.


Turut hadir dalam kegiatan tersebut Camat Trienggadeng Muhammad, unsur TNI dari Danramil Trienggadeng, jajaran Polsek Trienggadeng, serta perwakilan kelompok tani bawang merah se-Kabupaten Pidie Jaya.


Melalui penguatan kapasitas petani dan pengembangan klaster bawang merah, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya bersama Bank Indonesia berharap mampu meningkatkan produktivitas pertanian, menekan risiko gagal panen, mengendalikan inflasi pangan, serta mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana.(*) 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image