Membangun Generasi Emas dari Dapur Singgah Mata
LHOKSUKON – Aroma masakan bergizi menyeruak dari dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Singgah Mata di Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara. Di balik denting sudip dan kuali, ada misi besar yang sedang dirajut: memastikan tidak ada lagi siswa yang berangkat sekolah dengan perut kosong, sekaligus menjemput impian Generasi Emas 2045.
Sejak resmi beroperasi pada 9 April 2026, SPPG yang dikelola oleh Yayasan Rencong Pase Gemilang ini telah menjadi tulang punggung pemenuhan gizi bagi ribuan anak di wilayah tersebut. Kehadirannya bukan sekadar urusan perut, melainkan simbol kepedulian negara terhadap kesehatan dan masa depan anak bangsa.
Kepala SPPG Singgah Mata, Desi, mengungkapkan bahwa kualitas rasa menjadi prioritas utama. Ia tidak ingin makanan sehat identik dengan rasa yang hambar. Oleh karena itu, pihaknya merekrut tenaga ahli untuk memastikan menu harian tetap menggugah selera anak-anak.
"Alhamdulillah, di dapur kami menyediakan koki yang luar biasa. Tujuannya agar anak-anak tetap bisa menikmati cita rasa yang enak dalam setiap makanan bergizi yang mereka santap," ujar Desi saat ditemui pada Sabtu (2/5/2026).
Menu yang disajikan telah dirancang secara saksama sesuai arahan Badan Gizi Nasional (BGN) dan Presiden Prabowo Subianto. Dalam satu piring, terkandung komposisi karbohidrat dari nasi, serat dari sayur-mayur, protein hewani seperti ayam, daging, ikan, atau telur, serta buah-buahan sebagai pelengkap nutrisi.
Operasional dapur ini tergolong masif. Setiap harinya, SPPG Singgah Mata memproduksi sebanyak 2.363 porsi makanan. Untuk memastikan distribusi tepat waktu, mereka menyiagakan dua unit armada mobil dengan empat pengemudi yang siap menembus jalanan Aceh Utara.
Dapur ini juga menjadi penggerak ekonomi lokal. Saat ini, terdapat 50 personel yang terlibat, terdiri dari: 47 karyawan (termasuk tim dapur dan operasional), 3 staf administrasi.
dr. Ida Riani, selaku mitra SPPG Singgah Mata, menekankan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini hadir sebagai solusi nyata di tengah masyarakat. Ia tak menampik bahwa faktor ekonomi sering kali menjadi penghalang bagi orang tua untuk menyediakan asupan ideal bagi anak-anak mereka.
"Selama ini, kita tahu banyak anak sekolah yang tidak makan saat jam sekolah, mungkin disebabkan oleh faktor ekonomi. Dengan adanya SPPG ini, kita berharap dapat membantu generasi bangsa tumbuh lebih sehat dan cerdas," tutur dr. Ida.
Kini, dari sebuah bangunan di pinggir jalan raya Medan-Banda Aceh, Gampong Singgah Mata, harapan itu mulai mewujud. Dapur MBG bukan hanya tempat memasak, tetapi kawah candradimuka bagi kesehatan fisik dan kecerdasan intelektual anak-anak Aceh Utara.(sul/ks)

