BREAKING NEWS

Anggaran Revitalisasi SMAN 1 Baktiya Barat Senilai Rp1,6 Miliar Diduga Dimark-up


​LHOKSUKON – Proyek revitalisasi gedung SMA Negeri 1 Baktiya Barat, Kecamatan Baktiya Barat, Kabupaten Aceh Utara, memicu sorotan publik. Penggunaan anggaran senilai Rp1.635.920.000 yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 tersebut diduga tidak sesuai dengan volume pekerjaan atau terindikasi mark-up.



​Berdasarkan papan informasi proyek, dana yang dikelola secara swakelola melalui Direktorat SMA Kemendikdasmen ini diperuntukkan bagi rehabilitasi 13 unit fasilitas, yang meliputi: ​10 ruang kelas, ​1 ruang laboratorium IPA, ​1 ruang perpustakaan, ​1 ruang ibadah.



​Kepala SMAN 1 Baktiya Barat, Fazlullah, saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa proyek tersebut masuk dalam kategori rehabilitasi ringan. Pekerjaan fokus pada penggantian atap seng serta kusen pintu dan jendela.



​"Untuk rehabilitasi ringan saja, seperti penggantian seng baru serta kusen pintu dan jendela ruang," ujar Fazlullah, yang ditemui di ruangnya, Sabtu (2/5/2026).



​Ia mengakui bahwa pihaknya masih menggunakan material lama untuk bagian tertentu, seperti rangka reng kayu. Material lama yang dinilai masih layak tetap dipertahankan dan hanya disisipkan kayu baru pada bagian yang rusak.



​"Kusen pintu dan jendela kami ganti menggunakan baja ringan, sementara daun pintunya menggunakan bahan PVC. Saya bangun dengan baik sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB), apalagi ini sekolah yang saya pimpin," tambahnya.


​Meski diklaim telah sesuai prosedur, pantauan di lokasi menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara besaran anggaran yang fantastis dengan realisasi fisik di lapangan.



​Anggaran sebesar Rp1,6 miliar tersebut dinilai cukup untuk melakukan rehabilitasi berat. Namun, faktanya material bangunan lama masih mendominasi struktur bangunan. Perubahan signifikan hanya terlihat pada penggantian seng dan kusen, sementara bagian lantai dan rangka plafon (reng) terpantau masih menggunakan material bekas yang dipoles kembali.



​Kondisi ini menimbulkan dugaan bahwa penggunaan dana tidak maksimal dan berpotensi merugikan keuangan negara demi mencari keuntungan sepihak. Apalagi, rehabilitasi itu juga diduga tidak melibatkan komite sekolah.



Ironisnya, saat awak media mencoba melakukan klarifikasi lebih mendalam terkait rincian revitalisasi tersebut, Kepala SMAN 1 Baktiya Barat justru menunjukkan sikap tidak kooperatif. Ia meminta wartawan untuk tidak memberitakan perihal dugaan penyimpangan tersebut sembari menyodorkan sejumlah uang tunai kepada awak media. (Mul)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image