Berkali-kali Diinfus, Nyak Syi Tetap Turun ke Lumpur: Bupati Pijay yang Menolak Pergi Saat Warganya Dilanda Bencana


Rabu, 04 Februari 2026 - 18.41 WIB



PIDIE JAYA — Lumpur masih menempel di halaman rumah warga. Tangis belum sepenuhnya reda. Namun di tengah puing dan kelelahan, satu sosok terus hadir tanpa jeda: H. Sibral Malasyi, Bupati Pidie Jaya, yang akrab disapa Nyak Syi.


Sejak banjir bandang dan longsor menghantam Pidie Jaya pada 25 November 2025, Nyak Syi memilih satu sikap: tidak pergi, tidak bersembunyi, dan tidak menyerah. 


Dari hari pertama hingga kini, ia terus menyusuri lokasi terdampak, menembus lumpur, hujan, dan kritik, demi memastikan warganya tidak sendirian menghadapi musibah besar ini.


Pidie Jaya bukan daerah dengan anggaran melimpah. Namun keterbatasan itu tak pernah dijadikan alasan. Dengan sisa tenaga dan tekad yang nyaris tak mengenal jeda, Nyak Syi terus berupaya menggerakkan pemulihan—membawa bantuan, membuka akses, dan mengawal setiap proses agar warga bisa kembali berdiri.


Harga dari pengabdian itu tidak murah. Tubuhnya beberapa kali tumbang. Infus terpasang di lengannya, obat dikonsumsi di sela rapat. Namun bahkan dalam kondisi itu, Nyak Syi kembali ke lapangan. “Warga masih di pengungsian,” begitu prinsip yang terus ia pegang.


Tak hanya hadir di hadapan rakyatnya, Nyak Syi juga selalu berada di sisi pemerintah pusat yang datang meninjau lokasi bencana. Dari hari pertama, ia memastikan setiap pejabat melihat langsung luka Pidie Jaya—bukan hanya lewat laporan di atas meja. Semua dijalani tanpa keluh, meski kritik dan tekanan terus berdatangan.


Kedekatan itu kini terasa nyata. Anak-anak korban bencana tak lagi canggung. Mereka mengenal Nyak Syi, menggenggam tangannya, bahkan menariknya untuk melihat rumah atau sekolah yang hancur diterjang banjir. Sebuah pemandangan sederhana, namun berbicara banyak tentang kehadiran seorang pemimpin.


Siang hari di bawah terik matahari, malam hari di ruang rapat. Waktu istirahat menjadi barang mewah. Setiap keluhan warga ditampung, setiap tangis didengar. Nyak Syi mengakui, beberapa kali harus diinfus sambil tetap bekerja, demi memastikan pemulihan berjalan dan tak ada warga yang tertinggal.


Di Pidie Jaya, Nyak Syi kini bukan sekadar bupati. Ia adalah simbol keteguhan di tengah bencana. Saat banjir bandang meruntuhkan rumah, dan longsor mengubur harapan, ia memilih satu hal yang paling sederhana sekaligus paling berat: tetap tinggal, tetap bekerja, dan tetap bersama rakyatnya.(Pangwa)

Bagikan:
KOMENTAR