Rapa'i Daboeh Memeriahkan HUT RI Ke-81 di Gampong Alue Leuhob
ACEH UTARA — Kesenian tradisional Rapa'i Daboeh dari grup asal Kecamatan Tanah Jambo Aye, sukses memeriahkan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Dusun Alue Jaya, Gampong Alue Leuhop, Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara.
Ribuan warga setempat tampak khusyuk dan antusias menyaksikan pementasan seni yang sarat dengan atraksi menegangkan tersebut, Sabtu (29/8/2026).
Dalam penampilannya, para seniman memperagakan aksi ekstrem menusuk-nusuk perut serta bagian tubuh lainnya menggunakan senjata tajam tanpa mengalami luka, yang diiringi tabuhan rapai bertempo cepat dan lantunan zikir.
Pertunjukan ini tidak hanya menjadi hiburan rakyat yang memukau bagi masyarakat desa, tetapi juga sarana pelestarian warisan budaya leluhur.
Sejarah dan Asal-Usul Rapa'i Daboeh
Kesenian Rapa'i Daboeh merupakan perpaduan antara seni tabuh rapai dan atraksi kekebalan tubuh yang lahir pada masa penyebaran Islam di Aceh. Alat musik rapai sendiri konon diperkenalkan oleh seorang ulama besar asal Baghdad, Sekh Abdul Qadir Jailani, yang kemudian dikembangkan di Aceh oleh Sekh Rapa'i pada abad ke-15.
Pada masa lampau, kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan rakyat atau media dakwah Islam untuk menarik minat masyarakat, tetapi juga digunakan sebagai sarana penyemangat mental dan fisik para pejuang Aceh dalam melawan penjajah kolonial Belanda.
Atraksi kekebalan atau daboeh diyakini bersumber dari latihan kekebalan spiritual (kebatinan) yang dilandasi nilai-nilai keagamaan, di mana para pemain (disebut anok daboeh) berada dalam kondisi trans atau konsentrasi penuh yang dipimpin oleh seorang syekh atau pembaca zikir (kapostang).
Hingga kini, Rapa'i Daboeh tetap dijaga eksistensinya oleh masyarakat Aceh sebagai identitas budaya, warisan sejarah perjuangan, dan seni pertunjukan sakral yang dilestarikan dari generasi ke generasi. (**)

