BREAKING NEWS

Kondisi Komplek Makam Sultan Al-Malik ash-Shalih Memprihatinkan


LHOKSUKON – Gerimis yang turun di Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, siang itu tidak hanya membasahi bumi, tetapi juga menyisakan duka di hati para peziarah. Di dalam kompleks makam pelopor kesultanan Islam tertua di Nusantara, Sultan Malikussaleh, air hujan tampak menetes bebas dari celah-celah atap bangunan pelindung yang telah rusak dan bocor.



​Kondisi cagar budaya yang kian memprihatinkan ini memicu gelombang keprihatinan, baik dari masyarakat lokal maupun para pemerhati sejarah. Situs yang seharusnya menjadi simbol kebanggaan dan peradaban luhur, kini justru tampak merana akibat kurangnya perhatian.



​Kerusakan fisik ini bukan sekadar urusan estetika. Bagi masyarakat Aceh, kondisi ini adalah pertaruhan harga diri di mata dunia. 



Sebagai destinasi wisata religi internasional, makam ini kerap dikunjungi oleh pelancong dari berbagai belahan negara serumpun.



​Rasyidin, seorang mantan kombatan GAM yang kini aktif mengamati perkembangan daerahnya, tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya.



​"Kami malu melihat kondisi seperti ini. Belum lama ini ada pengunjung dari Malaysia dan beberapa negara lain yang datang berziarah ke Makam Sultan Malikussaleh. Mereka melihat langsung atap yang bocor dan rusak. Ini sangat memalukan bagi kita semua," ungkap Rasyidin dengan nada masygul, Rabu (3/6/2026).



​Sebagai ikon sejarah yang menggaungkan nama Aceh ke panggung dunia, kompleks makam ini dinilai layak mendapatkan tempat utama dalam skala prioritas pembangunan dan pelestarian cagar budaya. Namun, realitas di lapangan justru berbicara sebaliknya.



​Ironi di balik rusaknya makam ini semakin terasa getir saat mengingat kembali masa-masa pesta demokrasi. Kompleks pemakaman ini mendadak riuh oleh kedatangan para politisi saat musim kampanye tiba.



​Mulai dari calon gubernur, calon bupati, hingga para pemburu kursi legislatif di tingkat kabupaten (DPRK) maupun provinsi (DPRA), berbondong-bondong datang membawa angin surga. Narasi tentang menjaga sejarah dan memajukan wisata religi kerap digaungkan di hadapan masyarakat.



​"Sebelum pemilihan, semua datang ke lokasi ini. Mereka berbicara lantang tentang komitmen menjaga sejarah. Namun, setelah terpilih, hingga hari ini kondisi makam tetap telantar seperti ini. Ke mana janji-janji itu?" gugat Rasyidin.



​Bagi para pengunjung, Sultan Malikussaleh bukan sekadar nama besar dalam buku pelajaran sejarah. Beliau adalah pilar utama yang meletakkan fondasi peradaban Islam di Nusantara.



​"Ini bukan sekadar bangunan biasa. Makam Sultan Malikussaleh adalah identitas sejarah Aceh Utara dan bukti kejayaan Samudera Pasai. Jika terus dibiarkan rusak, berarti kita sedang mengabaikan warisan leluhur yang sangat berharga," tutur salah seorang pengunjung yang tengah menatap langit-langit bangunan yang lapuk.



​Apabila dibiarkan tanpa penanganan cepat, curah hujan yang tinggi dikhawatirkan akan mempercepat kerusakan struktur bangunan pelindung utama. Selain mengurangi kenyamanan para peneliti dan peziarah, pembiaran ini lambat laun dapat merusak artefak penting di dalamnya.



Peneliti Sejarah Islam dari Lembaga Cisah (Center for Information of Sumatra-Pasai Heritage), Sukarna Putra, mengatakan nilai historis dan kebesaran Sultan Al-Malik ash-Shalih.



​"Beliau adalah seorang sultan yang pemenang, sekaligus sosok ulama dan umara (pemimpin). Kita berbicara sejarah berdasarkan bukti autentik yang nyata, bukan karangan," ujar Sukarna.



​Beberapa poin penting terkait sejarah kesultanan yang disampaikan oleh Sukarna Putra meliputi:


> ​Penerang Agama di Asia Tenggara: Sultan Muhammad yang bergelar Al-Malik ash-Shalih merupakan sultan kedua yang memimpin pemerintahan Islam di Kesultanan Samudera Pasai. Atas perjuangan beliau dan para pendahulu, Islam dapat tersebar luas dan diterima dengan baik di wilayah ini.


> ​Bukti Arkeologis yang Autentik: Makam sultan memiliki batu nisan berbahan granit yang sangat langka dan tidak ditemukan di wilayah lain di Indonesia. Pemilihan bahan baku ini menunjukkan betapa tingginya peradaban Pasai saat itu. Pada nisan tersebut tertulis bahwa beliau wafat pada 17 Ramadan 696 Hijriah (1297 Masehi).


> ​Gelar dan Silsilah Mulia: Arti kata As-Sa'id pada nama beliau merujuk pada sosok bangsawan yang berbahagia karena wafat secara syahid (fi sabilillah). Beliau menyandang gelar tersebut sebagai pemimpin agung yang dihormati, bahkan sebelum pemimpin lain di kawasan ini menggunakan predikat 'Sultan'.


> ​Luas Wilayah dan Kekuatan Militer: Pada masa pemerintahannya, wilayah Samudera Pasai membentang sangat luas—setara dengan 21 hari perjalanan laut menggunakan kapal Tiongkok hingga ke Padang, Sumatra Barat. Untuk menjadi sultan saat itu, syaratnya sangat ketat, salah satunya harus memimpin minimal 10.000 prajurit dan berada di garis terdepan dalam berjihad setiap tahunnya.



Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Pemerintah Aceh, serta instansi terkait untuk segera mengambil tindakan nyata. Anggaran rehabilitasi perlu segera dialokasikan sebelum jejak-jejak kejayaan Samudera Pasai ini benar-benar terkikis oleh abainya generasi hari ini.



​Sebab, menghargai masa lalu adalah cara terbaik bagi sebuah bangsa untuk melangkah menuju masa depan. (*)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image