BREAKING NEWS

Jejak Sukses Putra Aceh di Gorontalo: Ratusan Sapi, Bisnis Logistik, dan Inspirasi untuk Peternak Pijay


GORONTALO – Di tengah hiruk-pikuk Pekan Nasional (PENAS) KTNA XVII yang mempertemukan ribuan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, rombongan Kabupaten Pidie Jaya justru menemukan kisah sukses yang membanggakan. Seorang putra Aceh yang merantau ke Gorontalo berhasil membangun usaha peternakan dan bisnis logistik yang berkembang pesat di tanah rantau.



Adalah dr. Ismail Rasyid (57), pengusaha asal Aceh yang kini menetap dan mengembangkan usahanya di Desa Botomoputi, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo. Sosok ini menjadi perhatian rombongan KTNA Pidie Jaya dan Dinas Pertanian Kabupaten Pidie Jaya saat melakukan kunjungan lapangan, Minggu (21/6/2026).



Dipimpin Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie Jaya, Muhammad Nur, S.P., M.Si, rombongan bersama pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Pidie Jaya meninjau langsung peternakan sapi yang dikelola Ismail Rasyid di kawasan tersebut.



Kunjungan itu bukan sekadar agenda silaturahmi biasa. Di balik hamparan kandang dan ternak yang berkembang di Gorontalo, rombongan melihat secara langsung bagaimana seorang putra Aceh mampu membangun usaha peternakan yang terintegrasi dengan bisnis logistik multimoda yang kini menjadi salah satu sektor usaha yang digelutinya.



Rombongan yang terdiri dari Muhammad, Nofri Mahathir, Bahagia Yahya, Teuku Zulkifli, T. Eddi, Jamal, dan Muhammad disambut hangat oleh Ismail Rasyid. Suasana penuh keakraban terlihat saat mereka berdiskusi mengenai tantangan dan peluang pengembangan peternakan modern di Indonesia.



Selain meninjau kandang dan sistem pemeliharaan ternak, rombongan juga mempelajari manajemen usaha yang diterapkan sehingga mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan sektor peternakan nasional.



Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi melalui Plt Kadis Pertanian dan Pangan Pidie Jaya, Muhammad Nur, menyebut keberhasilan Ismail Rasyid menjadi contoh nyata bahwa putra daerah mampu bersaing dan sukses di luar kampung halaman.



“Kami melihat langsung bagaimana usaha peternakan ini berkembang. Pengalaman seperti ini sangat berharga untuk menjadi inspirasi bagi peternak dan generasi muda di Pidie Jaya agar berani berinovasi dan mengembangkan usaha berbasis peternakan maupun agribisnis,” ujarnya.



Kehadiran rombongan KTNA Pidie Jaya juga menjadi ajang memperkuat jaringan antarpelaku usaha dan petani dari berbagai daerah. Sejumlah anggota KTNA asal Aceh yang berada di Gorontalo turut hadir dalam pertemuan tersebut, menciptakan suasana kekeluargaan yang kental di perantauan.



Di sela-sela diskusi, para peserta saling bertukar pengalaman mengenai pengembangan peternakan, strategi pemasaran ternak, hingga peluang kerja sama lintas daerah. Kegiatan kemudian ditutup dengan salat Magrib berjamaah, makan malam bersama, serta sesi foto sebagai simbol persaudaraan yang terus terjalin meski dipisahkan ribuan kilometer dari kampung halaman.



Kunjungan ini menjadi salah satu momen berharga bagi kontingen Pidie Jaya dalam mengikuti PENAS KTNA XVII. Tidak hanya membawa pulang ilmu dan pengalaman baru, tetapi juga membuktikan bahwa putra-putri Aceh mampu menorehkan jejak keberhasilan di berbagai penjuru Indonesia.



Dari kandang sapi di Gorontalo, lahir sebuah pesan sederhana namun kuat: kesuksesan tidak mengenal batas wilayah, dan semangat merantau dapat menjadi jalan untuk mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.(Pang) 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image