Dugaan Kampanye Negatif Jelang Pemilihan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Muhammad Siddiq Armia Minta Pelaku Bertobat
BANDA ACEH – Proses pemilihan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh periode 2026–2030 diwarnai isu tidak sedap. Salah satu kandidat, Prof. Muhammad Siddiq Armia, M.H., Ph.D., menjadi sasaran dugaan kampanye negatif berupa penyalahgunaan identitas untuk penipuan.
Beredar informasi bahwa oknum tidak bertanggung jawab menggunakan nomor telepon 082395087253 dengan mencatut nama Prof. Muhammad Siddiq Armia untuk meminta sejumlah uang kepada pihak tertentu. Tindakan ini diduga sengaja dilakukan untuk merusak kredibilitas dan menciptakan citra negatif terhadapnya di tengah tahapan seleksi rektor yang sedang berlangsung.
Menanggapi hal tersebut, Prof. Muhammad Siddiq Armia secara tegas meminta pelaku untuk segera menghentikan tindakannya dan kembali ke jalan yang benar.
"Saya mengajak siapa pun yang melakukan tindakan ini untuk kembali kepada jalan yang benar. Perbuatan tersebut tidak hanya bertentangan dengan ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya, tetapi juga dapat dikategorikan sebagai tindak pidana yang dapat diproses sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia," tegas Prof. Siddiq melalui keterangan resminya, Minggu (19/7/2026).
Saat ini, proses penentuan pimpinan UIN Ar-Raniry tengah memasuki tahap krusial. Pada 15–16 Juli 2026 lalu, Kementerian Agama RI telah menggelar tahapan seleksi bagi empat kandidat guru besar, yakni Prof. Dr. H. Muhammad Siddiq Armia, M.H., Ph.D., Prof. Dr. Saifullah, M.Ag., Prof. Dr. Inayatillah, M.Ag., dan Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag.
Prof. Siddiq sendiri merupakan akademisi dengan rekam jejak akademik yang mumpuni. Ia adalah lulusan magister Universitas Indonesia dan doktor dari University of Cambridge, Inggris. Selain itu, ia tercatat dalam daftar Top 2% Scientist Worldwide 2025 dan merupakan alumni Lemhannas RI. Secara silsilah, ia adalah cucu dari pendiri Pondok Pesantren Darussa'adah, almarhum Tgk. H. M. Ali Irsyad Al-Falaki (Abu Teupin Raya).
Terkait insiden pencatutan nama ini, pihak terkait mengimbau masyarakat maupun sivitas akademika agar tidak mudah percaya terhadap permintaan sumbangan atau uang yang mengatasnamakan kandidat rektor tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Publik diharapkan tetap menjaga suasana kondusif dan menjunjung tinggi etika akademik selama proses pemilihan berlangsung.(**)

