JAKARTA - Penutupan Selat Hormuz akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran mengganggu distribusi minyak dunia.
Kapal-kapal pengangkut minyak terjebak di jalur perdagangan penting itu, termasuk kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yakni Gamsunoro yang dilaporkan terjebak sejak Senin (2/3/2026).
Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai pasokan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Apalagi menjelang Lebaran 2026, kebutuhan BBM dipastikan meningkat karena mobilitas mudik-balik masyarakat Indonesia.
Di tengah kekhawatiran tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut bahwa stok BBM nasional masih cukup untuk 20 hari ke depan.
Dia juga menjamin bahwa kebutuhan minyak di Indonesia tetap tercukupi di tengah konflik Timur Tengah.
Namun, bukannya meredakan kekhawatiran, pernyataan itu justru menimbulkan pertanyaan baru.
Publik membandingkan cadangan BBM Indonesia dengan Jepang yang jauh lebih besar dan mampu bertahan hingga 254 hari ke depan.
Lantas, mengapa cadangan BBM di Indonesia lebih kecil daripada Jepang?
Alasan Indonesia hanya punya cadangan BBM 20 hari ke depan
Bahlil menjelaskan, cadangan BBM di Indonesia hanya hanya bertahan sampai 20 hari ke depan sudah sesuai dengan standar minimal cadangan nasional, bahkan melampauinya.
Dia mengatakan, selama ini kapasitas daya tampung cadangan BBM di Indonesia masih terbatas, yakni maksimal hanya 25 hari.
"Saya sampaikan bahwa kemampuan daya tampung BBM kita sudah sejak lama hanya maksimal di 25 hari, maksimal. Sehingga cadangan nasional kita itu minimal 20 sampai 23 hari," kata dia, dikutip dari laman Kemensetneg RI.
Keterbatasan daya tampung inilah yang membuat Indonesia memiliki cadangan minyak lebih sedikit dibandingkan Jepang.
Bahlil tidak menampik bahwa keterbatasan kapasitas menjadi salah satu tantangan yang harus segera diperbaiki oleh Pemerintah Indonesia.
"Jadi kita tidak bisa, katakan lah, teman-teman menganggap harus Pak kita stok 60 hari. Mau isi taruh di mana? Kita tidak punya storage," kata dia.
Untuk saat ini, Bahlil mengatakan bahwa cadangan BBM tersisa hingga 23 hari ke depan.
Meski demikian, cadangan BBM tersebut tetap dianggap dalam kisaran yang aman.
"Sekarang BBM kita itu sudah 23 hari. Jadi sudah di atas standar minimal cadangan nasional yang sebagaimana lazimnya,” ujarnya.
Meski pasokan energi nasional dalam kondisi aman, Bahlil menyampaikan jika perang berlangsung lebih lama, maka kebutuhan minyak dalam negeri akan terganggu.
"Ke depan kan pasti kalau perangnya lama pasti akan berdampak. Itu sudah pasti. Sampai dengan 1-2 bulan ke depan insyaallah kita masih clear. Insyaallah tidak ada masalah,” tuturnya.
Oleh sebab itu, pemerintah mulai menyiapkan sejumlah langkah mitigasi guna mengantisipasi potensi gangguan pada jalur pasokan energi global.
Salah satunya dengan melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah.
Menindaklanjuti kondisi yang terjadi, Bahlil mengatakan bahwa pihaknya sudah menerima arahan dari Presiden Prabowo Subianto untuk menambah penyimpanan.
Pembangunan fasilitas penyimpanan minyak ini menjadi penting agar cadangan energi nasional dapat ditingkatkan hingga mencapai tiga bulan ke depan.
Rencananya, pembangunan penyimpanan minyak tambahan didirikan di sejumlah lokasi alternatif, seperti di Pulau Sumatera.
"Kita rencana salah satu alternatif terbaiknya ada di wilayah Sumatera," kata Bahlil.
Dia juga mengungkapkan bahwa sudah ada investor dari luar negeri yang mau membangun fasilitas penyimpanan minyak mentah di Indonesia.
“Investasinya sudah ada, investornya sudah ada,” ucap Bahlil, dilansir dari Antara.
Kendati demikian, dia tidak menyampaikan secara gamblang siapa investor tersebut. Bahlil hanya memastikan, sang investor bukan dari AS.
Nantinya, investor yang terlibat dalam pembangunan storage di Indonesia merupakan campuran dari luar negeri dan dalam negeri.
“Investasinya dicampur dari dalam negeri dan dari luar, tetapi bukan AS. Yang membangun (storage) swasta,” tutur Bahlil.
Dengan begitu, pihak swasta juga akan terlibat di dalam pembangunan storage minyak mentah di Indonesia.
Diharapkan, dengan adanya pembangunan fasilitas penyimpanan minyak tambahan, maka kapasitas storage maksimal bisa mencapai 90 hari atau 3 bulan.
Sumber: KOMPAS.com
